Islam, dalam kemurnian risalahnya, bukanlah agama yang rumit atau membebani. Ia hadir sebagai petunjuk (hudan) yang diturunkan oleh Sang Pencipta untuk menuntun manusia kembali kepada fitrahnya. Namun, sayangnya, hari ini kita menyaksikan sebuah realitas di mana Islam yang seharusnya sederhana justru tertutup oleh lapisan-lapisan dogma manusia yang tebal dan menyesakkan.

Kekacauan yang melanda umat Islam saat ini tidak berasal dari Al-Qur’an, melainkan dari ketergantungan berlebihan terhadap sumber-sumber di luar wahyu. Hadis-hadis yang dikumpulkan ratusan tahun setelah wafatnya Nabi telah dijadikan hakim atas Al-Qur’an, bukan sebaliknya. Akibatnya, hukum-hukum Allah yang jelas dan sederhana dalam Al-Qur’an justru sering kali dianulir oleh narasi-narasi sejarah yang kontradiktif.

Pandangan orang di luar Islam terhadap kita sering kali dipenuhi dengan kebingungan dan persepsi negatif. Hal-hal aneh yang mereka lihat—seperti ekstremisme, ketidaksetaraan, atau ritual yang dianggap tidak rasional—bukanlah cerminan dari Islam, melainkan cerminan dari praktik beragama yang berdasarkan pada hadis dan tradisi sektarian. Islam telah kehilangan wajah indahnya karena tertutup oleh praktik yang tidak pernah diajarkan langsung oleh Allah di dalam kitab-Nya.

Bagi pemeluk Islam sendiri, kebingungan menjadi hal yang lumrah. Banyak umat yang merasa ragu dalam beribadah karena takut melanggar aturan-aturan buatan manusia yang tidak ada dasarnya dalam Al-Qur’an. Proses ibadah yang seharusnya menjadi momen kedekatan personal antara hamba dengan Pencipta, kini berubah menjadi beban prosedural yang penuh dengan ketakutan akan salah langkah menurut sekte tertentu.

Muamalah islami, yang seharusnya mencakup nilai-nilai kejujuran, keadilan, dan kemanusiaan, telah terdistorsi oleh aturan-aturan ulama sektarian yang sering kali bertentangan dengan semangat kemerdekaan yang dibawa Al-Qur’an. Umat terkotak-kotak dalam Sunni, Syiah, Salafy, dan lainnya, di mana loyalitas kepada golongan sering kali melampaui loyalitas kepada Allah dan kitab-Nya.

Padahal, Allah dengan tegas menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah satu-satunya kitab yang cukup dan rinci. Allah berfirman:

“Maka patutkah aku mencari hakim selain Allah, padahal Dialah yang menurunkan kitab (Al-Qur’an) kepadamu dengan terperinci? Orang-orang yang telah Kami beri kitab, mengetahui bahwa Al-Qur’an itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya. Maka janganlah kamu sekali-kali termasuk orang yang ragu.” (QS. Al-An’am: 114).

Islam itu sebenarnya sangat sederhana. Allah tidak menghendaki kesulitan bagi hamba-Nya dalam menjalankan agama. Allah berfirman:

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 185).

Kesederhanaan inilah yang ingin kita kembalikan melalui sikap kembali hanya kepada Al-Qur’an.

Ketika seseorang menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber utama dan satu-satunya, ia akan mendapati bahwa agama ini sangat logis dan membebaskan. Tidak ada lagi keraguan akan keabsahan suatu hukum karena semuanya tertulis dengan jelas dalam wahyu. Allah berfirman:

“Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS. An-Nahl: 89).

Ketergantungan pada kitab-kitab buatan manusia hanya akan melahirkan prasangka (zhan) yang menyesatkan. Allah memperingatkan:

“Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka hanyalah mengikuti prasangka belaka dan mereka hanyalah membuat kebohongan.” (QS. Al-An’am: 116).

Inilah akar dari perpecahan umat yang terjadi saat ini.

Membela Rasulullah Muhammad bukanlah dengan membela hadis yang disandarkan kepada beliau, melainkan dengan membela risalah yang beliau sampaikan: Al-Qur’an. Rasulullah tidak pernah diperintahkan untuk membawa syariat tandingan di luar wahyu. Allah berfirman:

“Katakanlah, ‘Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku. Al-Qur’an ini adalah bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu, petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.’” (QS. Al-A’raf: 203).

Tugas seorang Rasul adalah menyampaikan risalah Allah secara murni, tidak lebih. Allah menegaskan tugas ini dalam firman-Nya:

“Kewajiban rasul tidak lain hanyalah menyampaikan risalah dengan terang.” (QS. Al-Ma’idah: 99).

Jika Rasulullah saja hanya mengikuti wahyu, maka sudah semestinya umatnya melakukan hal yang sama dan tidak mencari sumber otoritas lain.

Beribadah kepada Allah dengan merujuk pada Al-Qur’an justru memberikan kedamaian batin. Kita tidak lagi dibingungkan oleh silang pendapat antar-ulama yang tidak berujung. Al-Qur’an adalah standar yang pasti (qath’i). Allah berfirman:

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.” (QS. Ali Imran: 103).

Tali Allah itu adalah Al-Qur’an.

Sektarianisme yang terjadi saat ini adalah akibat nyata dari meninggalkan Al-Qur’an. Setiap sekte merasa paling benar dengan “kitab suci kedua” mereka. Padahal Allah melarang hal tersebut:

“Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS. Ar-Rum: 31-32).

Islam adalah agama nalar. Allah memerintahkan kita untuk berpikir, merenung, dan meneliti setiap informasi. Allah berfirman:

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an? Kalau sekiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS. An-Nisa: 82).

Al-Qur’an tidak memiliki kontradiksi, sedangkan kitab-kitab buatan manusia dipenuhi oleh hal tersebut.

Sebagai Muslim Qurani, kita memilih untuk membebaskan akal dari belenggu taklid. Mengikuti aturan yang tidak diizinkan Allah adalah tindakan yang sia-sia dan berbahaya. Allah berfirman:

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (QS. Asy-Syura: 21).

Kesederhanaan Islam terletak pada kepatuhan tunggal kepada Allah. Tidak perlu rumit, tidak perlu berbelit. Cukup jadikan firman Allah sebagai panduan utama. Allah berfirman:

“Inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.” (QS. Al-An’am: 153).

Bagi pembaca awam, kembalilah membaca Al-Qur’an dengan pemahaman Anda sendiri. Jangan takut pada intimidasi mereka yang menganggap bahwa Anda tidak mampu memahami wahyu tanpa bantuan penafsiran manusia. Allah telah menjanjikan bahwa Al-Qur’an mudah dipahami bagi mereka yang mau mengambil pelajaran. Allah berfirman:

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qamar: 17).

Janganlah terjebak dalam rasa takut untuk berbeda dengan arus utama. Kebenaran tidak diukur dari seberapa banyak orang yang meyakininya, melainkan dari kesesuaiannya dengan ayat-ayat Allah. Jika suatu aturan agama tidak memiliki dasar yang kuat dalam Al-Qur’an, tinggalkanlah. Allah berfirman:

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Isra’: 36).

Islam yang menyelamatkan adalah Islam yang murni, Islam yang kembali kepada source code aslinya. Dengan hanya berpegang pada Al-Qur’an, kita telah memurnikan tauhid kita dan menutup celah bagi syirik dalam bentuk kepatuhan kepada aturan manusia yang dianggap suci. Inilah jalan yang paling lurus menuju keridhaan Allah SWT.

Mari kita tinggalkan kerumitan yang dibuat manusia dan kembali kepada pelukan wahyu yang menenangkan. Semoga Allah membimbing kita semua untuk memahami Islam sebagai jalan yang benar-benar mudah, sederhana, dan menyelamatkan bagi seluruh alam. Allah berfirman:

“Dialah yang menamai kamu orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al-Qur’an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia.” (QS. Al-Hajj: 78).