Jika hanya berpegang pada Al-Qur’an, dari mana Anda tahu cara salat?

  • Jawaban: Salat adalah ibadah yang sudah ada sebelum Nabi Muhammad SAW, sebagaimana dipraktikkan oleh Nabi Ibrahim dan para nabi sebelumnya. Al-Qur’an menyebutkan elemen-elemen salat seperti berdiri, rukuk, sujud, dan waktu-waktunya (QS. 2:43; 2:125; 11:114). Bagi kami, esensi salat adalah penyembahan kepada Allah, dan tata caranya tidak harus bergantung pada narasi yang rentan kesalahan manusia.

Bukankah Allah memerintahkan “Taatlah kepada Rasul”? Bagaimana bisa menaati Rasul tanpa hadis?

  • Jawaban: Menaati Rasul berarti menaati pesan yang dibawanya. Allah berfirman, “Tugas rasul tidak lain hanyalah menyampaikan (risalah) dengan terang” (QS. 5:99). Rasulullah diutus untuk membawa Al-Qur’an. Maka, menaati Rasul secara faktual adalah dengan menaati apa yang beliau sampaikan, yaitu Al-Qur’an.

Mengapa Anda menolak hadis padahal ada banyak ajaran moral di dalamnya?

  • Jawaban: Kami tidak menolak kebenaran moral, namun kami menolak menjadikannya sebagai sumber hukum agama yang setara atau melebihi Al-Qur’an. Allah telah menjamin Al-Qur’an terpelihara (QS. 15:9), sementara hadis adalah catatan manusia yang terkumpul ratusan tahun setelah Nabi wafat, yang di dalamnya terdapat banyak kontradiksi dan riwayat yang meragukan.

Bukankah Al-Qur’an bersifat umum, sehingga butuh hadis sebagai penjelas (bayan)?

  • Jawaban: Allah menyatakan sendiri bahwa Al-Qur’an adalah kitab yang terperinci (fushshilat, QS. 6:114) dan menjelaskan segala sesuatu (QS. 16:89). Jika kita butuh hadis untuk memahami Al-Qur’an, artinya Al-Qur’an tidak mampu menjelaskan dirinya sendiri. Bukankah ini meragukan janji Allah?

Bukankah Nabi Muhammad adalah teladan (uswatun hasanah)? Bagaimana meneladani beliau tanpa hadis?

  • Jawaban: Teladan terbaik Rasul adalah keteguhan beliau dalam menegakkan hukum Allah (Al-Qur’an) dan keberanian beliau melawan tradisi nenek moyang yang menyimpang. Meneladani Rasul berarti meneladani ketaatan beliau kepada wahyu Allah, bukan meniru perilaku kultural yang diklaim sebagai hadist Rasulullah, lalu menjadikannya seolah-olah perintah Tuha dan hukum Tuhan dalam menjalani hidup.

Bukankah para ulama telah menyaring hadis (sahih, hasan, dhaif)?

  • Jawaban: Proses penyaringan itu adalah ijtihad manusia, bukan wahyu Allah. Seseorang tidak bisa menjamin kebenaran mutlak atas apa yang diucapkan Nabi Muhammad SAW 1.400 tahun lalu tanpa catatan langsung dari beliau sendiri. Kami memilih untuk bersandar pada yang sudah dijamin pasti oleh Allah: Al-Qur’an.

Mengapa Anda tidak mengikuti mayoritas umat Muslim (Sunni/Syiah)?

  • Jawaban: Allah memperingatkan dalam Al-Qur’an: “Jika kamu mengikuti kebanyakan orang di bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah” (QS. 6:116). Kebenaran tidak ditentukan oleh jumlah pengikut atau konsensus kelompok, melainkan oleh kesesuaian dengan firman Allah.

Apa pandangan Anda tentang perpecahan sekte-sekte saat ini?

  • Jawaban: Perpecahan terjadi justru karena setiap sekte menjadikan kitab-kitab tambahan (hadis/tafsir golongan) sebagai otoritas. Kami memandang perpecahan tersebut adalah konsekuensi dari melanggar larangan Allah untuk tidak bercerai-berai dalam agama (QS. 30:31-32). Kembali ke Al-Qur’an adalah satu-satunya jalan keluar untuk bersatu.

Apakah Anda tidak khawatir salah dalam menafsirkan Al-Qur’an sendiri?

  • Jawaban: Al-Qur’an diturunkan untuk menjadi petunjuk bagi manusia (hudan lin-nas). Kami menggunakan akal dan pikiran, sebagaimana diperintahkan Allah (QS. 38:29), untuk memahami pesan-Nya. Jika ada bagian yang sulit, kami merujuk pada ayat-ayat lain yang lebih jelas (muhkamat), bukan mencari penafsiran yang membawa kita pada syirik atau penyimpangan.

Apa tujuan akhir dari sikap Anda yang hanya berpegang pada Al-Qur’an?

  • Jawaban: Tujuannya adalah memurnikan ibadah hanya kepada Allah (tauhid). Kami ingin memastikan bahwa ketika kami berdiri di hadapan Allah kelak, kami tidak membawa aturan-aturan buatan manusia yang disandarkan atas nama Nabi, melainkan hanya mengikuti apa yang secara jelas telah diturunkan oleh Pencipta kita.