Visi di Balik Website Ini
Bahaya Mengikuti Tradisi dan “Kebanyakan Orang”
Dalam perjalanan spiritual, sering kali kita terjebak dalam arus besar narasi yang diwariskan turun-temurun. Namun, Al-Qur’an dengan tegas memperingatkan kita bahwa kebenaran tidak ditentukan oleh jumlah pengikut atau usia tradisi.
- Peringatan tentang “Kebanyakan Orang”: “Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka hanyalah mengikuti prasangka belaka dan mereka hanyalah membuat kebohongan.” (QS. Al-An’am: 116)
- Kecaman terhadap fanatisme nenek moyang: “Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,’ mereka menjawab: ‘(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang kami dapati pada bapak-bapak kami (mengerjakannya).’ Apakah mereka akan mengikuti juga, walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apa pun, dan tidak mendapat petunjuk?” (QS. Al-Baqarah: 170)
Tradisi sebagai penghalang kebenaran: “Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul.’ Mereka menjawab: ‘Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya.’ Apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?” (QS. Al-Ma’idah: 104)
Akal: Instrumen Wajib untuk Membedah Wahyu
Allah menciptakan akal agar kita tidak menjadi “robot” yang hanya menjalankan perintah tanpa memahami esensinya. Kami meyakini bahwa beragama tanpa menggunakan akal adalah bentuk pengkhianatan terhadap potensi yang telah diberikan Allah kepada manusia.
- Perintah untuk menggunakan nalar (bukan sekadar ikut-ikutan): “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Isra’: 36)
- Kecaman bagi yang mematikan akal sehat: “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah)…” (QS. Al-A’raf: 179)
- Panggilan untuk meneliti secara kritis: “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an? Kalau sekiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS. An-Nisa: 82)
Perspektif Muslim Qurani: Merdeka dalam Kebenaran
Sebagai seorang Muslim Qurani, website ini berdiri di atas prinsip bahwa Islam adalah agama yang rasional dan membebaskan. Ketika Allah telah menjamin bahwa Al-Qur’an adalah penjelas bagi segala sesuatu (QS. Al-An’am: 38) dan kitab yang terperinci (QS. Al-An’am: 114), maka mencari otoritas keagamaan di luar Al-Qur’an adalah tindakan yang tidak logis dan berisiko tinggi.
Kami mengajak Anda untuk:
- Berhenti menjadi pengikut buta: Lepaskan belenggu “katanya” dan mulailah membaca langsung source code (Al-Qur’an) yang telah diturunkan.
- Mengaktifkan nalar: Menguji setiap doktrin dengan ayat-ayat Allah. Jika suatu ajaran tidak ditemukan dasarnya dalam Al-Qur’an, maka ajaran tersebut bukanlah bagian dari agama yang Allah ridhai.
- Berani Berbeda: Jangan takut jika pemahaman Anda bertentangan dengan “kebanyakan orang”, karena kebenaran Tuhan sering kali terasing dari arus utama yang hanya mengikuti prasangka.
Mengembalikan Risalah ke Jalur Aslinya: Mengapa Kami Memilih Al-Qur’an
Rasulullah Muhammad SAW diutus oleh Allah ke muka bumi dengan satu misi utama: menyampaikan pesan Allah (Al-Qur’an). Beliau adalah rasul (utusan) yang tugasnya terikat mutlak pada risalah yang diembannya. Namun, realitas hari ini menunjukkan sebuah anomali: Al-Qur’an sering kali hanya menjadi pajangan atau pelengkap, sementara sumber utama dalam beribadah justru bergeser kepada kitab-kitab buatan manusia, pendapat para ahli hukum terdahulu, dan berbagai aturan sekunder yang sering kali justru menjauhkan umat dari pesan asli Allah.
Rasulullah dan Misi Tunggalnya
Tugas utama Rasulullah SAW adalah menyampaikan apa yang telah Allah wahyukan kepadanya. Beliau tidak pernah diperintahkan untuk membuat sistem hukum di luar apa yang Allah turunkan.
- Tugas utama Rasul adalah menyampaikan Al-Qur’an: “…Dan tidak ada kewajiban atas rasul, selain menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.” (QS. Al-Ankabut: 18)
- Rasul hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadanya: Katakanlah, “Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku…” (QS. Al-A’raf: 203)
Fenomena “Nomor Dua” dan Otoritas Manusia
Saat ini, banyak umat yang lebih mengedepankan fatwa manusia daripada ayat-ayat Allah yang sangat jelas. Kita terjebak dalam ribuan halaman kitab buatan manusia yang sering kali bertentangan satu sama lain, sementara perintah Allah dalam Al-Qur’an ditinggalkan. Ini adalah bentuk pengabaian terhadap peringatan Allah:
- Peringatan tentang mencari hakim selain Allah: “Maka patutkah aku mencari hakim selain Allah, padahal Dialah yang menurunkan kitab (Al-Qur’an) kepadamu dengan terperinci?…” (QS. Al-An’am: 114)
Mencintai Rasulullah dengan Menjaga Kemurnian Pesan
Banyak yang beranggapan bahwa mencintai Rasulullah berarti mengikuti segala narasi yang disandarkan kepada beliau. Namun, sebagai seorang Muslim Qurani, kami memandang hal ini dari sudut pandang yang berbeda: Cara terbaik untuk membela dan mencintai Rasulullah adalah dengan menjaga kemurnian risalah yang beliau bawa.
Jika Rasulullah SAW diutus untuk membawa Al-Qur’an, maka dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai satu-satunya sumber ibadah, kita sedang “membela” beliau dari tuduhan bahwa beliau membawa ajaran yang tidak lengkap atau tidak cukup.
- Menghormati tugas Rasul adalah menghormati pesan yang dibawanya: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat…” (QS. Al-Ahzab: 21) — Teladan terbaik Rasulullah adalah ketaatan mutlak beliau kepada Al-Qur’an.
- Mengikuti Al-Qur’an adalah bukti loyalitas tertinggi: “Katakanlah (wahai Muhammad), ‘Jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu’…” (QS. Ali Imran: 31). Sebagai seorang Qurani, kami memaknai “mengikuti beliau” sebagai mengikuti apa yang beliau bawa—yakni Al-Qur’an—bukan mengikuti tradisi yang disandarkan kepada beliau setelah beliau wafat.
Website ini adalah platform bagi para pencari kebenaran yang menggunakan akal sebagai kompas, dan Al-Qur’an sebagai peta satu-satunya menuju keridhaan-Nya. Website ini juga bukan untuk memicu perdebatan, melainkan hanya sebuah ajakan kecii untuk berpikir kritis, merdeka dari belenggu taklid terhadap manusia, dan kembali ke fitrah sebagai hamba yang hanya mengikuti, mematuhi serta menyembah Allah melalui petunjuk-Nya yang paling murni.
Semoga langkah kecil ini menjadi kontribusi nyata dalam memurnikan pemahaman kita akan Islam yang sejati. Amin Ya Allah