Sebagai seorang Muslim yang berpegang teguh pada Al-Qur’an sebagai otoritas tunggal, saya melihat agnostisisme bukan sebagai “lawan”, melainkan sebagai sebuah fase reflektif dalam perjalanan intelektual manusia. Agnostisisme sering muncul dari sebuah kejujuran: pengakuan bahwa manusia tidak memiliki akses langsung terhadap hal-hal yang bersifat metafisika. Namun, dalam perspektif Qurani, posisi ini justru merupakan pintu masuk bagi manusia untuk mulai mendayagunakan perangkat yang paling berharga yang diberikan Tuhan: akal budi. Al-Qur’an tidak meminta kita percaya begitu saja tanpa bukti; ia justru menantang kita untuk menggunakan nalar guna menyingkap tabir yang tampak “tidak bisa dijelaskan”.
Logika dasar dalam Al-Qur’an berakar pada observasi. Allah berfirman dalam QS. Ali Imran ayat 190–191:
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka’.”
Mengapa ayat ini menjadi fondasi bagi kita? Karena ia memberikan perintah eksplisit untuk “memikirkan”. Bagi seorang Qurani, kesimpulan akan keberadaan Tuhan bukanlah sebuah asumsi, melainkan sebuah hasil dari proses berpikir yang sistematis saat mengamati keteraturan alam semesta. Jika kita melihat sebuah mesin yang sangat kompleks, nalar sehat kita akan menolak jika dikatakan mesin itu ada dengan sendirinya. Begitu pula semesta; keteraturan yang presisi adalah “bahasa” yang sedang menjelaskan keberadaan perancangnya.
Sering kali, keraguan muncul karena kita terjebak dalam paradigma materialisme yang membatasi bukti hanya pada apa yang bisa disentuh indra. Namun, nalar sehat kita pasti tahu bahwa banyak hal nyata yang tidak bisa dilihat, seperti cinta, keadilan, atau hukum logika itu sendiri. Al-Qur’an menantang batasan ini melalui QS. Al-A’raf ayat 179:
“…Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah)…”
Ayat ini adalah undangan bagi mereka yang ragu untuk mempertanyakan: “Apakah saya sudah menggunakan seluruh instrumen pemahaman saya, atau saya hanya membatasi diri pada persepsi fisik?” Sebagai Muslim Qurani, kami memandang bahwa ada “sinyal” dari Tuhan yang hanya bisa ditangkap jika kita menggunakan hati (kesadaran terdalam) dan akal (logika berpikir) secara harmonis.
Salah satu pemikiran yang kerap memicu agnostisisme adalah pertanyaan: “Jika Tuhan ada, mengapa Ia tidak tampak nyata?” Al-Qur’an menanggapi ini dengan logika kebebasan. Jika Tuhan menampakkan diri secara absolut hingga tidak menyisakan ruang bagi keraguan, maka kehendak bebas manusia untuk memilih menjadi hilang. Dalam QS. Al-Baqarah ayat 256, dinyatakan:
“Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama; sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat…”
Kalimat “telah jelas” mengindikasikan bahwa Tuhan telah memberikan bukti yang cukup untuk diakses akal. Tugas kita adalah menyingkirkan “kabut” yang menghalangi pandangan tersebut. Pandangan kami sebagai Qurani adalah bahwa keraguan sebenarnya adalah bentuk pencarian yang sedang tertunda. Karena itu, kami tidak menghakimi keraguan; kami justru melihatnya sebagai tantangan untuk mencari jawaban dengan lebih dalam.
Mari kita gunakan logika sederhana: apakah mungkin kesadaran manusia yang mampu mempertanyakan “mengapa saya ada” muncul dari sesuatu yang tidak memiliki kesadaran? Dalam QS. Ath-Thur ayat 35, Allah berfirman:
“Apakah mereka tercipta tanpa asal-usul ataukah mereka yang menciptakan diri mereka sendiri?”
Ini adalah tantangan logika yang sangat tajam bagi agnostik. Jika kita menolak adanya Pencipta, maka kita harus menerima hipotesis yang jauh lebih sulit diterima akal, yaitu: sesuatu bisa tercipta dari ketiadaan, atau sesuatu bisa menciptakan dirinya sendiri. Nalar sehat tentu akan memilih jalan yang lebih logis: adanya penyebab pertama (First Cause) yang mendasari keberadaan kita.
Kami, sebagai Muslim Qurani, meyakini bahwa Tuhan tidak sedang bersembunyi. Ia “berbicara” melalui hukum-hukum alam dan moralitas yang ada pada diri manusia. Dalam QS. Adz-Dzariyat ayat 20-21, ditegaskan:
“Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri; maka apakah kamu tidak memperhatikan?”
Perhatikanlah rasa keadilan yang ada di dalam diri Anda. Perhatikanlah rasa ingin tahu Anda akan kebenaran. Bukankah keinginan untuk mencari kebenaran adalah bukti bahwa kebenaran itu sendiri memang ada untuk ditemukan? Keinginan untuk mencari jawaban adalah tanda bahwa manusia adalah makhluk yang didesain untuk mengenali Sang Penciptanya.
Bagi kami, menjadi Qurani berarti berkomitmen pada kebenaran yang bisa diuji oleh akal. Kami tidak menuntut orang lain untuk percaya tanpa dasar. Sebaliknya, kami mengajak siapa pun, termasuk mereka yang agnostik, untuk berani melakukan “jihad intelektual”. Allah menjanjikan dalam QS. Al-Ankabut ayat 69:
“Dan orang-orang yang berjihad (bersungguh-sungguh) untuk mencari keridhaan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami…”
“Jihad” di sini adalah upaya sungguh-sungguh untuk berpikir, meneliti, dan jujur terhadap bukti yang ada. Jika seseorang sungguh-sungguh mencari, Al-Qur’an menjamin bahwa jalan itu akan diperlihatkan.
Pada akhirnya, agnostisisme bagi kami bukanlah tembok pemisah, melainkan sebuah ruang bagi percakapan intelektual. Kami percaya bahwa setiap orang yang jujur pada akalnya, cepat atau lambat, akan bertemu dengan realitas yang melampaui materi. Dunia ini tidak diciptakan secara main-main, sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-Mu’minun ayat 115:
“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?”
Logika keberadaan ini memanggil kita untuk bertanggung jawab atas hidup kita sendiri. Kami menghormati kebebasan berpikir Anda, namun kami juga dengan tulus mengundang Anda untuk menguji kembali tanda-tanda yang Tuhan bentangkan di semesta ini. Karena bagi kami, kebenaran tidak untuk diimani secara buta, melainkan untuk dipahami, diselami, dan diyakini dengan akal yang sehat dan hati yang merdeka