Buku ini tidak ditulis untuk memenangkan debat ego, melainkan untuk mengetuk pintu hati dan nalar Anda yang terdalam. Sebagai penutup dari seluruh rangkaian kebenaran logis yang telah kita bedah bersama, saya ingin mengajak Anda—khususnya Anda yang saat ini masih memegang teguh tumpukan kitab hadis sebagai hukum Allah—untuk duduk sejenak, menenangkan pikiran, dan merenungkan sepuluh pertanyaan mendasar di bawah ini.
[This book was not written to win ego-driven debates, but rather to knock on the door of your heart and deepest reason. As a conclusion to the series of logical truths we have explored together, I would like to invite you—especially those of you who still cling to piles of hadith books as God’s law—to sit down for a moment, calm your mind, and reflect on the ten fundamental questions below.]
Biarkan nurani Anda menjawabnya dengan jujur, tanpa pembelaan dogmatis, tanpa ketakutan psikologis terhadap bayang-bayang sekte:
[Let your conscience answer them honestly, without dogmatic defenses, without psychological fear of the shadow of sects:]
- Tentang Keaslian Kitab Suci
Jika Allah SWT telah berjanji secara mutlak di dalam Surah Al-Hijr ayat 9 bahwa Dia sendiri yang menjaga kemurnian Al-Quran, mengapa Anda masih merasa perlu menggantungkan keselamatan akhirat Anda pada kitab-kitab riwayat lisan buatan manusia abad ke-3 Hijriah yang sama sekali tidak pernah dijamin keasliannya oleh Allah? [On the Authenticity of the Holy Scriptures – If Allah SWT has made an absolute promise in Surah Al-Hijr, verse 9, that He alone preserves the purity of the Quran, why do you still feel the need to rely on the authenticity of human-made oral narratives from the 3rd century Hijriah, the authenticity of which has never been guaranteed by Allah?] - Tentang Kesempurnaan Kalimat Tuhan
Saat Allah menyatakan dalam Surah An-Nahl ayat 89 bahwa Al-Quran adalah Tibyanan likulli syai’ (penjelasan atas segala sesuatu), apakah menurut Anda Allah sedang keliru atau tidak jujur sehingga Kitab-Nya masih membutuhkan tumpukan ribuan hadis untuk menjelaskan apa yang “kurang”?[On the Perfection of God’s Word –When Allah states in Surah An-Nahl, verse 89, that the Quran is the explanation of all things, do you think Allah is being erroneous or dishonest, such that His Book still requires thousands of hadith to explain what is “lacking”?] - Tentang Hadis Terkuat di Dunia
Mengapa Anda melanggar sebuah hadis yang tercatat di dalam Shahih Muslim (No. 3004), di mana Rasulullah dengan sangat tegas bersabda: “Janganlah kalian menulis apapun dariku selain Al-Quran. Barangsiapa yang menulis dariku selain Al-Quran, maka hendaklah ia menghapusnya”? Jika Anda mengaku pecinta hadits shahih, mengapa hadis pelarangan penulisan ini justru Anda abaikan demi membela tumpukan kitab hadis buatan abad berikutnya? [On the Most Powerful Hadith in the World – Why do you violate a hadith recorded in Sahih Muslim (No. 3004), in which the Prophet Muhammad emphatically stated: “Do not write anything from me except the Quran. Whoever writes from me other than the Quran should erase it”? If you claim to be a lover of authentic hadith, why do you ignore this hadith prohibiting writing in favor of a pile of hadith books compiled centuries later?] - Tentang Fitnah Terhadap Karakter Nabi
Ketika Anda membaca riwayat di dalam kitab Shahih yang menceritakan bahwa Nabi Muhammad pernah linglung terkena sihir, memerintahkan penyiksaan sadis mencungkil mata manusia, atau digambarkan setara dengan pembawa sial, mengapa Anda begitu gigih membela validitas teks tersebut? Apakah status “Shahih” sebuah buku buatan ulama sekte jauh lebih berharga bagi Anda ketimbang menjaga nama baik, kesucian, dan kehormatan moral Rasulullah Muhammad SAW? [On Slander Against the Prophet’s Character – When you read stories in the Sahih that relate that the Prophet Muhammad was dazed by magic, ordered sadistic torture involving the gouging out of people’s eyes, or was described as being equivalent to a bringer of bad luck, why do you so vehemently defend the validity of these texts? Is the “Sahih” status of a book written by a sectarian cleric more valuable to you than preserving the good name, sanctity, and moral honor of the Prophet Muhammad (peace be upon him)?] - Tentang Logika Pewarisan Syariat
Jika hadis memang dirancang oleh Allah sebagai wahyu kedua yang wajib ditaati dan menjadi sumber hukum islam yang sah, mengapa Rasulullah Muhammad SAW tidak pernah memerintahkan para sahabatnya untuk membukukan, menyusun, dan mengesahkan satu pun kitab hadis selama beliau hidup? Mengapa Allah membiarkan hukum-Nya terlantar dalam ingatan individu selama beratus-ratus tahun sebelum dikumpulkan oleh manusia biasa yang tidak maksum? [On the Logic of Sharia Inheritance – If the hadith were indeed designed by Allah as the second revelation that must be obeyed and a valid source of Islamic law, why did the Prophet Muhammad (peace be upon him) never command his companions to record, compile, and authenticate a single hadith book during his lifetime? Why did Allah allow His laws to languish in the memories of individuals for hundreds of years before being compiled by ordinary, infallible humans?] - Tentang Otoritas Pembuat Hukum
Al-Quran dalam Surah Al-Kahfi ayat 26 menegaskan bahwa Allah tidak mengambil seorang pun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan hukum. Ketika sebuah sekte mengharamkan atau mewajibkan sesuatu yang tidak pernah diharamkan atau diwajibkan di dalam Al-Quran hanya berdasarkan sebuah riwayat sepihak, sadarkah Anda bahwa kita sedang memberikan hak prerogatif Tuhan kepada manusia biasa? [On the Authority of the Lawmaker – The Quran, in Surah Al-Kahf, verse 26, emphasizes that Allah does not take anyone as His partner in establishing law. When a sect forbids or obligates something that is never forbidden or obligatory in the Quran based on a single narration, do you realize that we are granting God’s prerogative to mere mortals?] - Tentang Pertanggungjawaban Individu
Di hari akhir nanti, ketika Anda berdiri sendirian di hadapan Penguasa Semesta Alam untuk mempertanggungjawabkan iman Anda, manakah hujah yang paling aman dan kokoh yang akan Anda bawa? Apakah Anda akan membawa Firman Allah yang mutlak (Al-Quran), ataukah Anda akan membawa tumpukan kutipan opini manusia purba seraya berkata, “Saya hanya mengikuti kata guru dan ulama sekte saya”? [On Individual Accountability – On the Day of Judgment, when you stand alone before the Lord of the Universe to answer for your faith, which argument will be the safest and most solid? Will you bring the absolute Word of Allah (the Quran), or will you bring a pile of quotes from ancient men, saying, “I only follow the words of my teachers and scholars”?] - Tentang Tuduhan Inkarus Sunnah
Siapakah yang sebenarnya sedang mengingkari Sunnah Rasul yang sejati? Apakah mereka yang meyakini Nabi Muhammad 100% taat dan hidupnya mencerminkan nilai-nilai luhur Al-Quran? Ataukah mereka yang gemar mengoleksi desas-desus lisan yang justru menampilkan sosok Nabi bertindak menabrak dan membatalkan ayat-ayat Al-Quran? [On the Accusation of Incarnate Sunnah – Who is actually denying the true Sunnah of the Prophet? Are they those who believe that the Prophet Muhammad was 100% devout and that his life reflected the noble values of the Quran? Or are they those who enjoy collecting oral rumors that portray the Prophet as violating and abrogating Quranic verses?] - Tentang Penyebab Utama Perpecahan
Lihatlah ke sekeliling Anda hari ini. Mengapa umat Islam terpecah menjadi ratusan mazhab yang saling membid’ahkan, menyesatkan, dan mengafirkan? Bukankah itu semua terjadi karena masing-masing kelompok memegang tumpukan kitab hadis politik yang berbeda-beda? Jika Al-Quran kita sama, mengapa hukum kita harus bercabang-cabang akibat teks sekunder buatan manusia? [On the Main Causes of Division – Look around you today. Why is the Muslim community divided into hundreds of sects, each accusing each other of heresy, misleading, and declaring each other to be infidels? Isn’t this all because each group holds a pile of different political hadith books? If our Quran is the same, why should our laws be divided by secondary, man-made texts?] - Tentang Nama yang Allah Berikan
Ketika Allah di dalam Surah Al-Hajj ayat 78 sudah memberikan kita nama yang sangat indah dan terhormat, yaitu Muslim, mengapa Anda masih merasa perlu menambahkan embel-embel identitas buatan manusia seperti Sunni, Syiah, atau Salafi di belakang nama Anda? Apakah nama pemberian Allah belum cukup membuat Anda bangga? [About the Names that Allah Gives – When Allah in Surah Al-Hajj verse 78 has given us a very beautiful and honorable name, namely Muslim, why do you still feel the need to add man-made identity tags such as Sunni, Shia, or Salafi after your name? Is your God-given name not enough to make you proud?]
Saudaraku, Al-Quran adalah tali Allah yang kokoh, lurus, dan membebaskan. Ia diturunkan bukan untuk mengurung akalmu, melainkan untuk memerdekakan jiwamu dari penghambaan sesama makhluk.
[My brothers, the Koran is the strong, straight and liberating rope of Allah. It was revealed not to confine your mind, but to free your soul from the servitude of fellow creatures.]
Gunakan mata yang Allah berikan untuk membaca secara jernih; gunakan hati yang Dia titipkan untuk merasakan keadilan-Nya; dan gunakan akal sehat yang Dia anugerahkan untuk memilah mana cahaya ilahi yang murni dan mana catatan sejarah manusia yang penuh noda.
[Use the eyes that God gave you to read clearly; use the heart He entrusted to you to feel His justice; and use the common sense He has given you to sort out which is pure divine light and where the records of human history are full of blemishes.]
Pulanglah ke Al-Quran. Di sanalah tempat berlabuh yang paling aman bagi jiwa-jiwa yang murni merindukan Allah SWT dan mencintai Rasulullah Muhammad SAW dengan sebenar-benarnya.
[Go home to the Koran. That is the safest anchorage for souls who genuinely long for Allah SWT and truly love the Prophet Muhammad SAW.]